Anak Berkebutuhan Khusus

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.        Latar Belakang

 

Identifikasi anak berkebutuhan khusus diperlukan agar keberadaan mereka dapat diketahui sedini mungkin. Selanjutnya , program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dapat diberikan. Pelayanan tersebut dapat berupa penanganan medis, terapi, dan pelayanan pendidikan dengan tujuan mengembangkan potensi mereka.

Dalam rangka mengidentifikasi  ( menemukan ) anak berkebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan tingkat kelainan anak, diantaranya adalah kelainan fisik, mental, intelektual, sosial, dan emosi. Selain jenis kelainan tersebut terdapat anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa atau sering disebut sebagai anak yang memiliki kecerdasan dan bakat luar biasa. Masing-masing memiliki ciri dan tanda-tanda khusus atau karakteristik yang dapat digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi anak dengan kebutuhan pendidikan khusus.

B.        Tujuan Penulisan

            Setelah selesai membaca makalah ini, diharapkan pembaca terutama mahasiswa PGSD mampu mengidentifikasi apakah seorang anak tergolong anak berkebutuhan khusus atau bukan, dan mampu merencanakan tindak lanjutnya.

C.        Rumusan Masalah

            Adapun masalah yang diangkat pada makalah ini adalah :

  1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
  2. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
  3. Karakteristik dan Kebutuhan Pembelajaran ABK

      

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.        Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK )

            Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.

Secara umum anak yang berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu : Anak yang memiliki kebutuhan khusus bersifat permanen , yaitu akibat dari kelainan tertentu, dan Anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan.

Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki perkembangan hambatan belajar dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Hambatan Belajar yang dialami setiap anak disebabkan oleh tiga hal yaitu :

1)      Faktor Lingkungan,

2)      Faktor dalam diri  anak sendiri, dan

3)      Kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak

B.        Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

            Anak berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi anak berkebutuhan khusus temporer dan permanen. Anak Berkebutuhan Khusus permanen meliputi :

  1. Anak dengan gangguan penglihatan ( Tunanetra )

1)      Anak kurang Awas ( low vision )

2)      Anak Buta ( blind )

  1. Anak dengan gangguan pendengaran dan bicara  ( Tunarungu / Tuna wicara )

1)      Anak kurang dengar ( heard of hearing )

2)      Anak tuli ( deaf )

  1. Anak dengan kelainan kecerdasan

1)      Anak dengan gangguan kecerdasan ( intelektual ) di bawah rata-rata (TUNAGRAHITA)

  • Anak tunagrahita ringan ( IQ 50 – 70 )
  • Anak tunagrahita sedang ( IQ 25 – 49 )
  • Anak tunagrahita berat ( IQ 25 ke bawah )

2)      Anak dengan kemampuan intelegensi di atas rata-rata

  • Guiffted dan Genius, yaitu anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata
  • Talented,  anak yang memiliki keberbakatan khusus
  1. Anak dengan gangguan anggota gerak ( Tunadaksa )

1)      Anak luyuh anggota gerak tubuh ( polio )

2)      Anak dengan gangguan fungsi syaraf otak ( cerebral palcy )

  1. Anak dengan gangguan prilaku dan emosi ( Tunalaras )

1)      Anak dengan gangguan prilaku

  • Anak dengan gangguan prilaku taraf ringan
  • Anak dengan gangguan prilaku taraf sedang
  • Anak dengan gangguan prilaku taraf berat

2)      Anak dengan gangguan emosi

  • Anak dengan gangguan emosi taraf ringan
  • Anak dengan gangguan emosi taraf sedang
  • Anak dengan gangguan emosi taraf berat
  1. Anak gangguan belajar spesifik
  2. Anak lamban belajar ( slow learner )
  3. Anak Autis

C.        Karakteristik dan Kebutuhan Pembelajaran ABK         

1.      Anak dengan gangguan Penglihatan ( Tunanetra )

Anak dengan gangguan penglihatan  (Tunanetra ) adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatan sedemikian rupa, sehingga membutuhkan layanan khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya. Layanan khusus dalam pendidikan bagi mereka, yaitu dalam membaca menulis dan berhitung diperlukan huruf BRAILLE bagi yang buta, dan bagi yang sedikit penglihatan diperlukan kaca pembesar atau huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba dan didengar atau diperbesar.

Untuk mengenali mereka, kita dapat melihat ciri-ciri sebagai berikut:

a.       Kurang melihat ( kabur ), tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 km.

b.      Kesulitan mengambil benda-benda kecil di dekatnya.

c.       Tidak dapat menulis mengikuti garis lurus

d.      Sering meraba-raba dan tersandung waktu berjalan

e.       Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik kering

f.       Tidak mampu melihat

g.      Peradangan hebat pada kedua bola mata

h.      Mata bergoyang terus

Keterbatasan anak tunanetra:

a.       Keterbatasan dalam konsep dan pengalaman baru

b.      Keterbatasan dalam berinteraksi dalam lingkungan

c.       Keterbatasan dalam mobilitas

Kebutuhan pembelajaran anak tunanetra:

Karena keterbatasan anak tunanetra seperti tersebut di atas maka pembelajaran bagi mereka mengacu pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a.       Kebutuhan akan pengalaman konkrit

b.      Kebutuhan akan pengalaman yang terintegrasi

c.       Kebutuhan dalam berbuat dan bekerja dalam belajar

Media belajar anak tunanetra dikelompokkan menjadi dua yaitu :

a.       Kelompok buta dengan media penulisan Braille

b.      Kelompok low vision dengan media tulisan awas yang dimodifikasi           ( misalnya tipe huruf diperbesar dan penggunaan alat pembesar )

2.      Anak dengan gangguan Pendengaran ( Tunarungu )

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya

pendengarannya sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal. Walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar, mereka masih tetap memerlukan layanan pendidikan khusus.

Ciri – ciri anak tunarungu adalah sebagai berikut :

a.       Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar

b.      Banyak perhatian terhadap getaran

c.       Terlambat dalam perkembangan bahasa

d.      Tidak ada reaksi terhadap bunyi atau suara

e.       Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi

f.       Kurang atau tidak tanggap dalam diajak bicara

g.      Ucapan kata tidak jelas, kualitas suara aneh/monoton

Kebutuhan pembelajaran anak tunarungu, secara umum tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Tetapi mereka memerlukan perhatian dalam kegiatan  pembelajaran antara lain:

a.       Tidak mengajak anak untuk berbicara dengan cara membelakanginya.

b.      Anak hendaknya ditempatkankan paling depan, sehingga memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru.

c.       Perhatikan postur anak yang sering memiringkan kepala untuk mendengarkan

d.      Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru, bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru sejajar dengan kepala anak.

e.       Guru bicara dengan volume biasa tetapi dengan gerakan bibirnya yang harus jelas.

3.      Anak dengan gangguan intelektual ( Tunagrahita )

Tunagrahita ( retardasi mental ) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual di bawah rata-rata, sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.

Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 3 indikator yaitu : (1) Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, (2) Ketidakmampuan dalam prilaku sosial/adaptif, dan (3) Hambatan prilaku sosial/adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun.

Ciri-ciri fisik dan penampilan anak tunagrahita :

1)      Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepal terlalu kecil/besar

2)      Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia

3)      Tidak ada/ kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan

4)      Koordinasi gerak kurang (gerakan sering tidak terkendali)

Kebutuhan pembelajaran anak tungrahita:

1)      Perbedaan tunagrahita dengan anak normal dalam proses belajar adalah terletak pada hambatan dan masalah atau karakteristik belajarnya.

2)      Perbedaan karakteristik belajar anak tunagrahita dengan anak sebayanya, anak tunagrahita mengalami masalah dalam hal yaitu :

§  Tingkat kemahirannya dalam memecahkan masalah

§  Melakukan generlisasi dan mentranfer sesuatu yang baru

§  Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas

4.      Anak dengan Gangguan gerak anggota tubuh ( Tunadaksa )

Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada anggota gerak (tulang,sendi,otot). Mereka mengalami gangguan gerak karena kelayuhan otot, atau gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palsy)

Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:

a.       Jari tangan kaku dan tidak dapat mengenggam

b.      Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lenyap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.

c.       Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali, bergetar)

d.      Terdapat cacat pada anggota gerak

e.       Anggota gerak layu, kaku, lemah/lumpuh

Kebutuhan pembelajaran anak tunadaksa :

Guru sebelum memberikan pelayanan dan pembelajaran bagi anak tunadaksa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a.       Segi Kesehatan Anak

b.      Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti kencing manis atau pernah di operasi, kalau digerakkan sakit sendinya, dan masalah lain seperti harus meminum obat dan sebagainya.

c.       Kemampuan gerak dan mobilitas

Apakah anak ke sekolah menggunakan transportasi khusus, alat bantu gerak, dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.

d.      Kemampuan Komunikasi

Apakah ada kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi yang akan digunakan (lisan,tulisan,isyarat) dan sebagainya.

e.       Kemampuan dalam Merawat Diri

Apakah anak dapat melakukan perawatan diri dalam aktivitas sehari-hari atau tidak. Misalnya: dalam berpakaian, makan, mandi,dan sebagainya.

f.       Posisi

Bagaimana posisi anak tersebut pada waktu menggunakan alat bantu, duduk pada saat menerima pelajaran, waktu istirahat, di kamar kecil (toilet), saat makan dan sebagainya. Sehingga phsycal terapis sangat diperlukan.

5.      Anak dengan gangguan Prilaku dan Emosi (Tunalaras)

Anak dengan gangguan prilaku (Tunalaras) adalah anak yang berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat, dan sangat berat, terjadi pada usia dan anak dan remaja, sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus.

Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki ciri-ciri:

1.      Cenderung membakang

2.      Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah

3.      Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu

4.      Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum

5.      Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos, jarang masuk sekolah.

Kebutuhan pembelajaran bagi anak tunalaras yang harus diperhatikan guru antara lain:

1.      Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi setiap anak

2.      Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi oleh setiap anak

3.      Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat anak

4.      Perlu adanya pengembangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari, dan contoh dari lingkungan

6.  Anak Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (gifted dan talented)

Anak yang memiliki potensi kecerdasan istimewa (gifted) dan anak yang memiliki bakat istimewa (talented) adalah anak yang memilik potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas di atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak cerdas dan berbakat istimewa disebut sebagai “ gifted & talented children “

Anak cerdas istimewa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1)      Membaca pada usia lebih muda, lebih cepat, dan memiliki perbendaharaan kata yang luas

2)      Memiliki rasa ingin tahu yang kuat, minat yang cukup tinggi

3)      Mempunyai inisiatif, kreatif, dan original dalam menunjukkan gagasan

4)      Mampu memberikan jawaban-jawaban atau alasan yang logisi, sistematis dan kritis

5)      Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan

6)      Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati

7)      Senang mencoba hal-hal baru

8)      Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi

9)      Mempunyai daya dan imajinasi yang kuat

10)  Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah

11)  Cepat menangkap hubungan sebab-akibat

12)  Tidak cepat puas atas prestasi yang dicapainya

13)  Lebih senang bergaul dengan anak yang lebih tua usianya

14)  Dapat menguasai dengan cepat materi pelajaran

Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang tertentu, misalnya hanya dalam bidang matematik, ilmu pengetahuan alam, bahasa, kepemimpinan, kemampuan psikomotor, penampilan seni.

7.      Anak Lamban Belajar ( Slow Learner )

Lamban Belajar (slow learner ) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit dibawah anak normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita. Dalam beberapa hal anak ini mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik disbanding dengan sebayanya. Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.

Ciri-ciri yang dapat diamati pada anak lamban belajar :

1.      Rata-rata prestasi belajarnya rendah (kurang dari 6)

2.      Menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya

3.      Daya tangkap terhadap pelajaran lambat

4.      Pernah tidak naik kelas

Anak lamban belajar membutuhkan pembelajaran khusus antara lain:

1.      Waktu yang lebih lama dibanding anak pada umumnya

2.      Ketalentaan dan kesabaran guru untuk tidak terlalu cepat dalam memberikan penjelasan

3.      Memperbanyak latihan dari pada hapalan dan pemahaman

4.      Menuntut digunakannya media pembelajaran yang variatif oleh guru

5.      Diperlukan adanya pengajaran remedial

8.      Anak Berkesulitan Belajar Spesifik

Dalam pelayanan pendidikan di Sekolah Reguler, sering kali guru dihadapkan pada siswa yang mengalami problem belajar atau kesulitan belajar. Salah satu kelompok kecil siswa yang termasuk dalam klasifikasi tersebut adalah kelompok anak yang berkesulitan belajar spesifik atau disebut Specific learning disabilitis.

Anak berkesulitan belajar adalah individu yang mengalami gangguan dalam suatu proses psikologis dasar, disfungsi sistem syaraf pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan nyata dalam ; pemahaman, gangguan mendengarkan, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan, lingkungan, budaya, ekonomi, ataupun kesalahan mengajar yang dilakukan guru.

Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan dalam mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Ciri-ciri anak berkesulitan belajar spesifik :

1.      Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia )

Ø  Kesulitan membedakan bentuk

Ø  Kemampuan memahami isi bacaan rendah

Ø  Sering melakukan kesalahan alam membaca

2.      Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)

Ø  Sangat lamban dalam menyalin tulisan

Ø  Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya.

Ø  Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca

Ø  Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris

Ø  Menulis huruf dengan posisi terbalik (p ditulis q atau b)

3.      Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkulia)

Ø  Sulit membedakan tanda-tanda : +, -, x, :, >, <, =

Ø  Sulit mengoperasikan hitungan atau bilangan

Ø  Sering salah membilang secara berurutan

Ø  Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71; 2 dengan 5; 3 dengan 8 dan sebagainya

Ø  Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Kebutuhan Pembelajaran Anak Berkesulitan belajar khusus.

Anak berkesulitan belajar khusus memiliki dimensi kelainan dalam beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang dan melaksanakan pmbelajaran, diantaranya:

a.       Materi pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan hambatan dan masalah yang dihadapi anak

b.      Memerlukan urutan belajar yang sistimatis yaitu dari pemahaman yang konkrit ke yang abstrak

c.       Menggunakan berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan hambatannya

d.      Pembelajaran sesuai dengan urutan dan tingkatan pemahaman anak

e.       Pembelajaran remedial

9.      Anak Autis

Autis dari kata auto, yang berarti sendiri, dengan demikian dapat diartikan seorang anak yang hidup dalam dunianya. Anak autis cenderung mengalami hambatan dalam interaksi, komunikasi, perilaku sosial.

Anak autis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a.       Mengalami hambatan di dalam bahasa

b.      Kesulitan dalam mengenal dan merespon emosi dengan isyarat sosial

c.       Kelakuan dan miskin dalam mengekspresikan perasaan

d.      Kurang memiliki perasaan dan empati

e.       Sering berprilaku di luar kontrol dan meledak-ledak

f.       Secara menyeluruh mengalami masalah dalam prilaku

g.      Kurang memahami akan keberadaan dirinya sendiri

h.      Keterbatasan dalam mengekspresikan diri

i.        Berprilaku monoton dan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan

Kebutuhan pembelajaran bagi anak autis :

a.       Diperlukan adanya pengembangan strategi untuk belajar dalam setting kelompok

b.      Guru perlu mengembangkan ekspresi dirinya secara verbal dengan berbagai bantuan

c.       Guru terampil mengubah lingkungan belajar nyaman dan menyenangkan bagi anak, Sehingga tingkah laku anak dapat dikendalikan pada hal yang diharapkan.


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Identifikasi anak berkebutuhan Khusus merupakan menemukan/ mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, sosial, emosional, sensoris/neurologis) dalam perumbuhan/ perkembangan dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).

Makalah ini dibuat agar guru dapat melihat klasifikasi dan karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus, sehingga guru mudah mengidentifikasi anak yang menjadi target.

B.     Saran

Sebagai seorang guru hendaknya lebih teliti dalam melihat perkembangan peserta didik, sehingga apabila peserta didik termasuk dan yang berkebutuhan khusus guru dapat langsung melakukan tindak lanjutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s